Saya memiliki seorang teman, dia orang Kanada dan tinggal di Okayama. Saya selalu bertemu di kampus, dan kemarin saya bertemu saat dia menghias pohon natal. Kemarin saya memulai pembicaraan dengannya dengan bertanya apakah kamu seorang Nasrani? Dia menjawab saya dilahirkan di keluarga Nasrani, kedua orang tuanya Nasrani, ibu dan kakeknya sangat rajin ke gereja dan taat beragama. Namun dia tidak bisa menyebut dirinya sebagai seorang Nasrani meskipun dia dilahirkan oleh ibu dan bapak yang juga Nasrani. Kemudian saya bertanya kenapa bisa begitu? Dia bilang, saya tidak pernah ke gereja dan tidak mempelajari ajarannya, saya hanya takut suatu saat karena ulah buruk saya, saya bisa merusak nama baik ajarannya. Tapi saya tetap percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Dia yang mengatur dan menciptakan semua ini, katanya.

Baginya agama adalah kepercayaan bagaimana hidup yang baik di dunia untuk kehidupan setelah mati. Namun pandangannya mengenai setelah kematian bukan mengenai kehidupan yang akan dia jalani setelah mati, namun bagaimana dia meninggalkan sesuatu di dunia yang bermanfaat bagi orang-orang yang masih hidup untuk selalu dikenang. Apa yang kamu korbankan saat ini akan tetap hidup saat kamu telah mati. Begitu pandangannya mengenai kehidupan setelah mati, bukan masalah surga atau neraka. Mungkin baginya neraka adalah ketika kamu telah meninggal namun namamu tetap hidup sebagai seorang yang hina.

Dia balik bertanya bagaimana dengan kamu?. Saya bilang dalam Islam ada tingkatannya, ketika kamu telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan dan Muhammad adalah utusanNya di dunia, maka kamu adalah seorang Muslim, tidak harus terlahir dari kedua orang tua yg juga Muslim, terlepas apakah kamu malas sembahyang, minum alkohol atau memakan babi, atau berzina, atau membunuh sekalipun. Selagi dalam dirimu masih ada kepercayaan dan tetap tunduk pada keyakinan itu kamu tetap seorang Muslim. Inilah keimanan tingkat terendah dalam Islam. Tingkat selanjutnya yaitu Mukmin, selain percaya, dia telah melakukan ibadah-ibadah terlepas apakah dia belum ikhlas, setengah-setengah atau karena masih ingin di puji melaksanakannya.

Tingkatan selanjutnya saya lupa, namun sy meminta izin untuk melihat contekan ke google, diapun mempersilahkan karena menurutnya ini sangat menarik. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu tingkatan selanjutnya yaitu Mukhsin yaitu orang yang beribadah seolah-olah dia melihat Tuhannya dan hatinya bergetar saat beribadah. Kemudian tingkatan selanjutnya yaitu Mukhlis yaitu mereka yang beribadah hanya karena keikhlasan kepada Allah. Dan tingkatan terakhir yaitu Muttaqien, yaitu orang yang betul-betul menjaga ibadahnya dan tidak melakukan larangan agama.

Dia kemudian bertanya kembali, oh iya tingkatan terendah tadi apa? Sambil menggambar tingkatannya dengan analogi anak tangga saya mengatakan bahwa tingkatan terendah adalah Muslim, kemudian Mukmin, Mukhsin, Mukhlis dan tertinggi adalah Muttaqien.

Kemudian saya terkaget karena dia langsung memotong pembicaraan saya dan berkata... kalau begitu saya adalah seorang muslim !,..... tapi bukan dalam Islam, dan dia tertawa... Saya pun tertawa kemudian dia melanjutkan, tingkatan keimanan saya mungkin sama dengan muslim lainnya namun yg dipercaya yang berbeda, karena saya percaya bahwa Tuhan Yesus itu ada, namun saya belum melaksanakan semua ajaran-ajarannya.

Kemudian dia melanjutkan, saya tahu tingkat keimanan kamu sampai dimana? Kemudian saya meliriknya dan bertanya, dimana menurut kamu? Dia menjawab, tingkatan keimanan kamu hanya sampai seorang Mukmin. Kenapa bisa begitu? kata saya. Karena tingkatan selanjutnya setelah mukmin kamu tidak tahu dan kamu meminta bantuan ke Google untuk bisa tahu.

Hahahahaha... Kamipun kembali tertawa bersamaan.

Padahal saya masih belum merasa masuk dalam tingkatan itu, sholat saya pun masih bolong-bolong. Wallahualam.


Okayama, 14 Des 2017

No comments:

Post a Comment