Hari pangan dunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan sebuah momen agar masyarakat dunia dapat memikirkan sejenak dan ikut bertanggung jawab mengenai kondisi pangan dunia. Dibeberapa negara miskin, negara berkembang maupun negara yang terkena musibah dan konflik ketersediaan dan kecukupan pangan masih menjadi masalah utama. Masyarakat dunia harus sadar dan bersama-sama membantu mereka yang kelaparan.

Tahun ini Badan pangan Perserikatan Bangsa bangsa FAO menetapkan tema HPS yaitu United Against Hungry (bersama-sama melawan kelaparan). Data FAO menyebutkan orang lapar di dunia telah mencapai ambang batas yaitu 1 milyar orang, menurut Direktur Jenderal FAO Jacques Diouf ini merupakan "Prestasi tragis di zaman modern".. WOW..!!. Salah satu penyebab "Prestasi" ini yaitu dampak dari krisis keuangan global thn 2008 yang menyebabkan melonjaknya harga pangan, dan beberapa bencana alam yang terjadi belakangan ini. Dengan peringatan hari pangan sedunia ini diharapkan agar semua negara, organisasi-oraganisasi mayarakat dan sektor swasta bersama-sama memerangi kelaparan dan kekurangan gizi.

Kecukupan pangan dunia juga dibenturkan pada beralihnya pemanfaatan sumber energi dari minyak bumi ke bahan baku yang dapat terbarukan (renewable). Dalam satu dekade ini 10% hasil pertanian dimanfaatkan untuk industri bioenergi ataupun pemanfaatan industri non pangan lainnya. Diperkirakan dalam satu dekade kedepan pemanfaatan hasil pangan untuk dikonversi menjadi bahan bakar akan mencapai 15%. Pemanfaatan hasil pertanian memang merupakan satu-satunya alternatif untuk menyediakan mengantisipasi berkurangnya minyak bumi dunia yang tak dapat diperbaharui.

Di Indonesia, peringatan hari pangan tahun ini akan dipusatkan di NTB. KIta berharap saja dengan peringatan hari pangan kali ini kita semua sadar akan potensi alam negara kita. Potensi alam ini jika dihitung kasat mata mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Namun tetap saja di tiap sudut daerah masih saja ada orang-orang yang kelaparan dan baru saja kita mendengar 42 kasus busung lapar dan gizi buruk di Prov Riau yang merupakan daerah kaya sumber daya alam, penghasil 1/2  dari devisa migas di Indonesia.. (*Ironi..).

Pada masa awal pembentukan Badan Ketahanan Pangan (teman-teman sering menyingkatnya menjadi Badan KETAMPANAN..hehehe) ada saja kontroversi mengenai istilah ketahananan pangan, ada yang beranggapan ketahanan pangan bukanlah pilihan kata yang cocok, yang cocok adalah kemandirian pangan, karena prinsip ketahanan pangan adalah tersedianya pangan yang cukup, caranya teserah, apakah mau diproduksi atau diimpor. Sedangkan kemandirian pangan berarti ketersediaan pangan yang berasal dari dalam negeri sendiri, dengan kata lain semuanya swasembada. Seharusnya Indonesia memang mampu!. Untuk orang-orang yang perutnya bisa kenyang tiap hari mungkin masih bisa saja memusingkan istilah-istilah itu, namun sebagian masyarakat yang jarang kenyang, istilah ketahanan atau kemandirian pangan itu urusan ke-87 (hehehe),  yg penting dapur bisa berasap dulu (bukan karena ledakan gas elpiji 3 kg..hehehe)

Fenomena lainnya, hasil penelitian dari badan ketahanan pangan menyatakan masyarakat indonesia lebih memilih mencicil motor atau membeli pulsa jika memperoleh pendapatan tambahan ketimbang memenuhi atau melengkapi kecukupan gizinya maupun keluarganya. Masyarakat kita sudah masuk kategori masyarakat pesolek. Masalah gizi meskipun berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, namun pemecahannya tidak selalu peningkatan produksi ataupun pengadaan pangan. Masalah gizi umumnya muncul akibat ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, yaitu peran keluarga dalam mengelolah ketercukupan dan mutu dari makanan. Oleh sebab itu masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan kompleks yang melibatkan aspek kesehatan, kemiskinan, ekonomi, kesempatan kerja dan pemerataan.

Masih saja ada sentilan kecil dari pola makan orang Indonesia, bahwa orang Indonesia makan untuk kenyang, bukan untuk sehat. Itulah sebabnya  Mie instant laris manis di negara kita, dibuat sepraktis mungkin untuk megenyangkan. Seberapa besar masyarakat kita ketika membeli produk makanan melihat informasi kandungan gizi yang berada dikemasan produk? bahkan yang lebih menggelikan lagi beberapa produk makanan mengecoh konsumen dengan mengiklankan produknya bebas dari mono sodium glutamat (MSG), namun ketika dilihat kemasannya terdapat mono natrium glutamat.. lha.. apa bedanya sodium dan natrium? cuman beda nama aja. natrium bahasa latin dari sodium atau garam Na. kacau..

Permasalahan gizi di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh Kekurangan Energi Protein (KEP), masalah kekurangan zat besi (penyebab anemia), kekurangan vitamin A, dan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Namun salah satu permasalah gizi lainnya yaitu obesitas. Belum selesai masalah kukurangan gizi, muncul lagi masalah baru yaitu kelebihan gizi. Coba lihat saja perbandingan konsumsi ikan di indonesia yang  hanya mencapai 26 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan malaysia yang mencapai 45 kg, dan jepang mencapai 60 kg. Konsumsi buah-buahan kita hanya mencapai 40,06 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan Jepang 120 kg, amerika 75 kg dan rekomendasi FAO 65 kg. Padahal negara ini adalah maritim dan agraris.

Nah dalam rangka hari pangan sedunia, sudah saatnya kita merefleksikan diri sejenak akan pentingnya ketersediaan dan mutu pangan, khususnya di tingkat keluarga. Program diversifikasi pangan harus terus digalakkan mengingat beranekaragamnya makanan-makanan tradisional yang sempat terlupakan akibat program NASI-onalisme (gerakan wajib makan nasi di Indonesia hehehe) dijaman orde baru dulu. Pemerintah sendiri harus menjamin ketersediaan input produksi pertanian, memastikan sumber pembiayaan bagi pertanian dan membangun industri pertanian.

Aku bertanya kepadamu, sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidup atau mati…… Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami tjelaka (Soekarno 1952, Presiden RI Pertama).

Salam
Bogor, 16 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment