Bagi yang telah menonton film 3 idiots yang dirilis akhir tahun 2009 pasti mengakui jika film ini adalah sebuah film yang bagus, film yang di dalamnya bertebaran pesan2 moral. Film ini menceritakan tentang persahabatan, menceritakan bagaimana melawan ketakutan, bagaimana seharusnya kita mengikuti kata hati, dan mengajarkan kita untuk ikut membantu orang lain mewujudkan impiannya. Film ini juga mengajarkan bagaimana cara belajar yang benar dan bagaimana menikmati proses menimbah ilmu pengetahuan. Selain itu film ini juga menceritakan bagaimana menyikapi pandangan orang lain mengenai kesuksesan, dimana sebagian besar orang masih beranggapan bahwa sukses itu adalah materi bukan kebahagiaan.

Karena sedemikian rupanya lingkungan menerjemahkan kata sukses itu, maka berimbas pula pada dunia pendidikan kita. Sudah sering kita mendengar istilah kuliah/sekolah untuk mendapatkan ijazah, ijazah untuk melamar pekerjaan yang bagus, pekerjaan yang bagus akan membuat kita menjadi orang kaya, dan kaya akan menjadikan kita terpandang. Akibatnya kita  belajar untuk mengejar simbol-simbol itu, bukan mendapatkan ilmu. 

Sy ingat cerita istri saya tentang anak-anak TK yang jadwalnya penuh dengan les, pulang sekolah masuk les membaca, setelah itu les berhitung, setelah itu les bahasa inggris, setelah itu les musik, astagfirullah anak sekecil itu berkelahi dengan waktu (mengutip lirik lagunya Iwan Fals) bayangkan anak TK yang seharusnya waktunya diisi dengan bermain malahan dipaksakan begitu untuk memenuhi ambisi orang tua(n)nya agar anaknya bisa menjadi lebih dibandingkan dengan anak lainnya.

Nah beberapa waktu lalu saya menerima email (email ini mungkin sudah beredar di beberapa milis) tentang resensi sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Ng Aik Kwang  dari University of Queensland. Prof Kwang dalam bukunya yang kontroversial berjudul "Why Asians Are Less Creative Than Westerners" (2001) mengemukakan beberapa hal yang membuka mata dan pikiran banyak orang antara lain :

Bagi sebagian besar orang Asia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Sebagai akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap lebih cepat bisa menjadikan seseorang untuk memiliki kekayaan yang banyak.

Di tingkat perguruan tinggi pun demikian, para dosen yang berhasil kadang dinilai dari berapa banyak mobil atau seberapa besar rumah yang dimilikinya, bukan seberapa banyak paper jurnal yang dipublikasi, seberapa banyak buku, atau patennya

Terkadang banyaknya  kekayaan yg dimiliki lebih dihargai daripada cara utk memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila cerita, novel, sinetron atau film yang disukai adalah yang bertema orang miskin menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sbg sesuatu yg wajar.

Saya kemudian melihat sistem pendidikan Indonesia yang identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll sebagian besar berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan menghafal rumus2 Imu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

Karena berbasis hafalan, di sekolah-sekolah kita murid dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none" (tahu sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

Karena berbasis hafalan, banyak pelajar kita bisa jadi juara dlm  Olympiade Fisika, dan Matematika, tapi sangat sedikit yang menghasilkan karya inovasi yang mengglobal, bahkan belum ada penghargaan nobel yang diterima.

Dalam proses belajar, para pelajar pada umumnya takut salah (kiasi) dan takut kalah (kiasu). Makanya sifat eksploratif untuk memenuhi rasa  penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai. Selain itu sifat para pengajar yang sangat superior, tidak mau didebat dan selalu merasa benar menambah ciut semangat explorasi pelajar.

Sebagian besar orang beranggapan bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran kurang mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya selalu merasa mungkin pertanyaan saya ini teralu gampang dan sangat umum, tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.

Saya melihat banyak kecocokan antara film 3 idiots dan hasil pemikiran Prof Kwang, hal ini betul-betul cocok dengan keadaaan sekarang, khususnya sistem pendidikan di Indonesia. Entah apakah Rajkumar, sutradara 3 idiots sangat terinspirasi oleh buku Prof Kwang atau keadaan ini memang sangat nyata dan sudah kasat mata. Berapa banyak dari kita yang tidak mencapai cita-citanya sewaktu kecil, atau berapa banyak dari kita yang tidak menjadikan talenta atau keahlian yang diberikan Tuhan untuk dikembangkan, dan berapa banyak dari kita yang cita-citanya dibentuk oleh lingkungan atau orang tua kita?

Dalam kehidupan sekarang kita harus bersaing dengan orang lain, Rektor Viru dalam 3 idiots mengatakan  "Hidup adalah sebuah perlombaan, jika Anda tidak cukup cepat, maka Anda akan diinjak-injak"  tidak ada salahnya dari kalimat tersebut, namun ada yang lebih baik selain perlombaan, yaitu "kerjasama!", sangat sukar menemukan sekolah yang mengajarkan kerjasama bagi siswanya, semua diajarkan untuk menjadi nomor satu, Boleh saja Prof Kwang mengatakan bahwa orang Asia kurang kreatif dibandingkan dengan orang Amerika atau Eropa, namun dalam hal kerjasama, bahu membahu dan gotong royong setidaknya orang Asia masih lebih tinggi dibandingkan dengan orang Amerika atau Eropa. 

Ki Hajar Dewantara meletakkan pondasi dari sistem pendidikan kita berdasarkan asas kerjasama bukan kompetisi atau persaingan, (ingat makna dari semboyan Ing ngarso suntolodo, Ing madya mangun karso dan Tutwuri Handayani?). Namun mau tidak mau sistem pendidikan kita terpengaruh oleh sistem pendidikan global yang mendewakan persaingan, sehingga hampir tiap kelas ruang belajar atmosfir persaingan sengaja diciptakan, namun sayang kita mengesampingkan proses eksplorasi.

Parahnya lagi beberapa sekolah memisahkan siswa-siswa pintarnya dalam suatu kelas khusus, dengan alasan mereka tidak bisa disaingkan dengan murid-murid yang lain yang kurang jenius (nah sekali lagi alasannya persaingan, bukan kerja sama).

Pendidikan itu adalah seperti menyalakan api, bukan mengisi teko. Artinya pendidikan seharusnya menyalakan inspirasi dan semangat untuk belajar, bukan memenuhi otak dengan hapalan (Socrates 470-399 SM)

Semoga saya bisa lebih banyak belajar lagi dari tulisan saya ini

Salam,
Februadi

No comments:

Post a Comment