":Tenggelamnya kapal Van Der Wijck melukiskan suatu kisah cinta murni di antara sepasang remaja, yang dilandasi keikhlasan dan kesucian jiwa, yang patut dijadikan tamsil ibarat. Jalan ceritanya dilatar belakangi dengan peraturan-peraturan adat pusaka yang kokoh kuat, dalam suatu negeri yang bersuku dan berlembaga, berkaum-kerabat, dan berinik-mamak."

sumber foto : http://t0.gstatic.com
Paragraf diatas adalah sebuah sinopsis di cover belakang buku tersebut, tidak ada pengantar lain layaknya novel2 masa kini yang penuh dengan komentar orang-orang terkenal yang diberikan skrip terlebih dahulu sebelum novelnya dicetak. Novel ini merupakan novel jadul yang di terbitkan pada tahun 1939 (weleh-weleh, orang tuaku saja belum hidup). Boleh dikata novel ini jadul, tapi sebenarnya sayalah sebenarnya yang ketinggalan jaman, karena baru membaca salah satu masterpice sastrawan besar Indonesia, Buya Hamka. Saya mendapatkan buku ini dari tetua di PTD Kak Atto yang diturunkan ke Kak Ihsan, dua orang yang pernah dikira pasangan sejenis (wkwkwkwk... piss). Seingatku novel ini pernah saya liat di Perpustakaan di lantai dua Gedung Juang 45 Makassar, berderet dengan roman-roman lain seperti Sengsara Membawa Nikmat dan Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai.

Roman ini menceritakan tentang persoalan adat di Minangkabau dan persoalan harta kekayaan yang menghalangi kisah cinta sepasang kekasih Hayati dan Zainuddin. Boleh dibilang sedikit berbau SARA dan merupakan kritikan sosial mengenai penegakan peraturan adat saat itu dan sindiran sosial terhadap materialisme.

Dikisahkan tentang kisah perjalanan hidup Zainuddin pria yang selalu jauh dari untung, Seorang anak yang ditinggal mati ayah dan ibunya. Ayahnya, Pendekar Sutan merupakan orang buangan dari Minangkabau karena telah membunuh. Setalah menjalani hukumannya di Cilacap dia dikirim ke tanah Bugis, kemudian disanalah dia bertemu dengan Daeng Habibah, ibu dari Zainuddin.Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin meninggalkan makassar menuju Batipuh di Padang. Dipadang dia merasa asing, belum lagi keluarganya yang tidak begitu simpatik kepadanya, karena menurut adat Minangkabau kebangsaan diambil dari Ibu. Walaupun Zainuddin berayah orang Minangkabau, namun ibunya berasal dari suku lain, maka dia dianggap sebagai suku dari ibunya. Zainuddin tak dapat mengatakan dirinya sebagai orang Minangkabau, dan dia tidak berhak diberi gelar pusaka. Dan dia pun tidak dapat mengatakan dirinya sebagai orang Makassar karena ayahnya berasal dari Padang. Boleh saja Zainuddin mendapatkan gelar bangsawan dari Minangkabau, namun itu hanya gelar pinjaman , dan tidak boleh diturunkan kepada anaknya, dan gelar tersebut pun mesti dibayar misalnya dengan sembelihan kerbau dan dipesta adatkan. Saya baru ngeh dengan cerita teman saya Ira yang bersal dari Padang waktu ngobrol di kantin kampus.

Zainuddin bertemu dengan Hayati di Batipuh, Dia jatuh cinta demikian pula Hayati, namun karena adat yang kuat ditambah Zainuddin tidak jelas asal usulnya maka keluarga Hayati menolak hubungan mereka. Zainuddin kemudian diminta meninggalkan Batipuh untuk menjaga nama baik kedua belah pihak. Pada saat Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang, hayati menemuninya dijalan kemudian mengucapkan janjinya akan menunggu Zainuddin, dan cinta suci miliknya hanya untuk Zainuddin. (hehehe.. sinetron banget)

Zainuddin mendengar kabar bahwa Hayati akan ke Padang, kemudian mengatur janji untuk saling bertemu. Hayati yang ditemani oleh Khadijah sahabatnya beserta saudara laki-lakinya Aziz. Pada saat mereka bertemu, Khadijah mengejek Hayati perihal Zainuddin yang keliatan cupu, alim dan sedikit alay (hehehehehe). Padahal Khadijah sendiri berniat menjodohkan Hayati dengan abangnya Aziz. Khadijah mengatakan bahwa tak cukuplah hanya dengan cinta mereka akan mengarungi kehidupan berkeluarga. Uang adalah faktor terbesar untuk membina kebahagiaan, dan menurutnya Zainuddin tidak dapat memberikan itu.

Akhirnya keluarga Aziz datang melamar, disaat yang sama pula Zainuddin memberanikan diri untuk mengirimi surat lamaran kepada keluarga Hayati, Zainuddin memberanikan diri melamar karena dia telah mendapatkan warisan dari ibu angkatnya di Makassar yang telah meninggal. Namun dalam rapat keluarga, keluarga Hayati menerima lamaran Aziz, karena lebih jelas asal usul, uji silsilah, dan uji kekayaan. Walaupun adat tidak boleh menerima menantu dari luar kampung sendiri, aturan ini dikecualikan terhadap menantu orang yang jelas asal usul, orang bangsawan atau orang alim besar ternama. Mungkin ini yang sebut uji fit and properties pra nikah. hehehehe. Hayati tidak bisa berkata-kata pada keputusan itu mengingat kuatnya adat yang memagarinya. Dia menyerah pada takdir dan memungkiri sumpahnya kepada Zainuddin.

Berkat nasehat dari sahabatnya Muluk, Zainuddin akhirnya meninggalkan Padang untuk mengubur masa lalunya, dan menuju Jakarta. Di Jakarta dia sukses menjadi penulis ternama yang selalu menulis hikayat-hikayat yang sangat menyentuh. Zainuddin kemudian pindah ke Surabaya untuk membuat penerbitan yang menerbitkan buku-buku dan tulisannya. Zainuddin pun menjadi orang yang mapan dan terkenal.

Aziz kemudian dipindah tugaskan oleh kantornya ke Surabaya. Di Surabaya, Aziz, Hayati dan Zainuddin bertemu. Aziz kemudian dipecat dari kantornya karena terlilit hutang, belum lagi kebiasaan lamanya suka bermain perempuan dan judi. Akhirnya rumah mereka pun harus dikosongkan dan mereka diusir dari rumah kontrakannya karena tidak bisa lagi membayar uang sewanya. Aziz kemudian meminta bantuan ke Zainuddin untuk menumpang dirumahnya. Aziz kemudian berniat ke Bayuwangi untuk mencari pekerjaan, dan menitipkan hayati di Tumah Zainuddin, dan akan menjemputnya setelah mendapatkan pekerjaan baru, Zainuddin pun menyewa seorang pembantu wanita tua untuk menemani hayati dirumahnya. Namun ternyata di Bayuwangi Aziz bunuh diri yang sebelumnya dia mengirim surat permohonan maaf kepada Zainuddin dan berharap Zainuddin menikahi Hayati.

Selama tinggal di rumah Zainuddin, Hayati mengetahui bahwa Zainuddin masih mencintai Hayati, karena menyimpan gambarnya yang berbingkai besar. Semua rahasia mengenai isi hati Zainuddin diceritakan oleh Muluk sahabat Zainuddin. Ketika mendengar berita kematian Aziz, Zainuddin kemudian memanggil Hayati dan memintanya kembali pulang ke Padang, Namun Hayati menolak dan menginkan tetap tinggal bersamanya, Zainuddin tetap teguh pendirian, Disuruhnya Hayati kembali ke Padang menumpang kapal Van Der Wijck yang berangkat menuju Padang.

Dengan berat hati Hayati meninggalkan Surabaya, Zainuddin pun sebenarnya tidak menginginkan hal tersebut, hanya karena egonya akhirnya dia memutuskan hal tersebut. Keesokan harinya tersebar kabar bahwa pada tanggal 20 Oktober 1936 telah tenggelam kapal Van der Wijck sekitar pukul 11.20 malam. Zainuddin pun kaget dengan pemberitaan tersebut, dan berupaya untuk mencari tau keberadaan Hayati, ternyata Hayati masih hidup, diujung waktu itu Zainuddin dan Hayati akhirnya saling mengungkapkan perasaannya masing-masing, permohonan maaf ddan penyesalannya. Demikianlah akhirnya hayati meninggal dunia.

Sepeninggal Hayati, kehidupan Zainuddin bertambah sunyi, dan kesehatannya pun menurun, akhirnya diapun meninggal dunia dan dimakamkan disamping makam Hayati.

Saya sangat suka dengan ttata bahasa dan penulisan roman ini. Saya juga suka dengan cara Buya Hamka menulis surat-surat Hayati dan Zainuddin, saya tidak tau bagaimana cara penjiwaannya hingga Buya Hamka dapat menuliskan surat-surat yang sangat jelas menggambarkan suasana hati Hayati dan Zainuddin. Tidak mungkinlah seorang yang lagi sedih menuliskan sebuah tulisan yang menceritakan kebahagiaan, dan demikian pula sebaliknya. Artinya Buya Hamka memposisikan dirinya sedang jatuh cinta atau sedang kecewa dalam menulis surat-surat yang indah dalam cerita ini.

Kritikan sosial terhadap kebudayaan kadang sedapat mungkin dihindari, apalagi jika dia adalah orang yang berasal dari kebudayaan itu sendiri. Dalam hal pernikahan, tiap daerah memiliki budaya tersendiri. Di suku Makassar-Bugis sendiri, Uang panai merupakan salah satu batu sandungan kebudayaan yang unik dan menjadi sedikit momok bagi para pemuda-pemuda yang akan berniat menikah, apalagi bagi pemuda yang tidak memiliki harta warisan yang cukup (hehehehe). Jadi kadang setelah mereka mendapatkan pekerjaan, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan uang untuk Uang Panai. Inilah mungkin salah satu alasan mengapa para pemuda-pemuda langsung menggaruk kepalanya ketika ditantang oleh pacarnya untuk menikahinya (hehehehe).Saya mengingat kelompok "You Know Who" versi Dokter Joko, apakah mungkin hal ini juga terjadi..?? Nantilah saya akan membahas mengenai Uang panai ini ditulisan berikutnya...

Salam.


Bogor, 23 Juli 2010

No comments:

Post a Comment