sumber : http://komunitascoemie.files.wordpress.com
Sore itu sepulang dari kampus, hujan baru saja berhenti. bukan hanya udara saja yang dibuatnya menjadi bersih namun pemandangan kearah Gunung Salak juga menjadi jernih. Gunung itu begitu gagahnya berdiri, diam namun memberikan pemandangan takjub. Yah.. sudah jelas gunung yang diam itu lebih enak dipandang daripada kemacetan yang selalu saja hadir di jalan depan kampus IPB, apalagi pada jam pulang kantor seperti saat ini. Memandangi Gunung Salak itu, ada rasa penasaranku bagaimana jika aku berdiri di salah satu pundaknya dan menatap kebawah.

Entah.. selalu saja ada ketertarikan bagi sebagian orang untuk mendaki sebuah gunung. dalam konteks psikologi manusia dibekali oleh rasa penasaran (curiousity) untuk mengetahui sesuatu dibalik sesuatu, jika secara berulang manusia mendapatkan kenyamanan, maka dia akan terus melakukannya dan selalu berusaha mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama yang telah dia lakukan, hingga orang lainpun terangsang rasa penasarannya.

Hingga tahun 2008 telah tercatat 210 pendaki yang meninggal di gunung tertinggi didunia, Everest. namun tetap saja gunung itu didaki, sekitar 3600an pendakian telah tercatat digunung itu. Gunung selalu saja menjadi magnet bagi sebagian orang, namun banyak juga yang berpikir apa tidak ada pekerjaan lain selain naik gunung?

Saya bukanlah seorang pendaki gunung yang jago, namun saya pernah dan selalu menikmati ketika melakukan pendakian. Melihat ketampanan Gunung Salak ketika perjalanan pulang sore itu sayapun mempertanyakan kenapa saya, teman-teman saya, dan mereka dulu suka naik gunung?. Yang jelas pelajaran berharga yang selalu saya dapat ketika naik gunung yaitu saya harus berdamai dengan beban yang saya bawa. Carrier yang berisi 60, 80 atau 100 liter kadang memiliki berat 20-40 kg itulah yang menjadi beban selama perjalanan, dan saya harus berdamai dengannya. Walaupun carrier itu memberatkan, namun saya butuh dia..!, dialah beban, resiko dan tanggung jawab yang harus saya pikul, dan sekali lagi untuk membuatnya sedikit ringan saya harus berdamai dengannya..!

Ada juga pesan-pesan penyejuk hati yang pernah saya dengar ketika melakukan pendakian waktu masih muda dulu (hehehe..), gini bunyinya "menaklukkan puncak itu memang sejuta rasa indah yang dirasa, tapi menaklukkan diri sendiri itulah yang terpenting. Kalau capek bilang capek jangan sok jago karna buntut-buntutnya akan menyiksa diri sendiri dan orang lain,pokoknya jangan sok jago deh..!. Kita harus belajar menaklukkan ego, puncak yang sebenarnya harus kita taklukkan itu ada didalam diri kita yaitu ego..!!, jangan coba-coba bermain2 dengan bahaya kalau kamu tidak siap dan tidak yakin..!!". Wuih... entah mahluk halus dari gunung mana yang pernah nasehati saya seperti itu.

Sangat mudah menerima diri sendiri jika kita telah berhasil, sukses dan sebagainya, namun kita juga harus mampu menerima jika kita dalam keadaan kalah, terpuruk dan berhenti di batasan kita. Sebenarnya disitulah puncak kita. itulah titik tertinggi kita. Kita mungkin bisa berdamai dengan cemohan, ejekan dan sebagainya, tapi belum tentu kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Ini adalah pelajaran lain yang harus dikhatam setelah naik gunung.

Kebersamaan dalam tenda adalah cerita lain selama naik gunung. Cerita ini yang tidak pernah akan dilupa sepanjang hidup. Semua sifat jelek dan sifat baik sahabat kita pasti akan ketahuan, siapa yang rajin ambil air, siapa yang rajin masak, siapa yang betul-betul rajin sholat walaupun dingin, siapa yang malas, siapa yang suka kentut, dan siapa yang tidurnya ngorok... hehehe. Dan anehnya kita dengan gampangnya menerima sifat-sifat sahabat kita itu. Dijamin sepulang dari pendakian keakraban akan lebih kental.

Kalau om Reinhol Mesner pendaki asal Italia selalu berpesan "Puncak gunung itu hanyalah harapan kita para pendaki, namun kembali ke keluarga dan masyarakat adalah tujuan kita".. hmmm.. dalem.!!. Begitu bijaknya beliau. Beliau adalah orang pertama yang mendaki 14 puncak dunia yang ketinggiannya diatas 8000 mdpl, walaupun begitu baginya keberhasilannya mendaki puncak mahkota dunia itu belumlah berhasil jika dia belum sampai kembali dirumah dengan selamat. Begitu juga buat kami-kami yang sedang menimbah ilmu di kampung orang, gelar Master atau Doktor itu hanyalah harapan kita, tujuannya kembali mengabdi ke almamater dan pulang kerumah menikmati tawa dan pertengkaran-pertengkaran kecil dalam keluarga... hehehehe.

Bagi seorang Gie (Jika menyebut namanya, saya selalu malu padanya..) "Pemuda-pemudi itu harus memiliki otak yang cerdas, soft skill berupa solidaritas dan menyelesaikan masalah dan kualitas jasmani yang sehat dan kuat, mereka wajib belajar mencintai alam sehingga dapat mengenal alam dan bangsanya dengan baik. Mencintai Indonesia harus mencintai alamnya dan rakyatnya yang hidup didalamnya. Patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan, indoktrinasi ataupun poster. Patriotisme dibangun berdasarkan partisipasi aktif mereka yang hidup ditengah alam dan rakyat, itulah alasan kenapa kami masuk hutan dan naik gunung". Seandainya dulu saya menjawab seperti ini ketika ditanya oleh orang tua saya kenapa saya harus naik gunung, mungkin orang tua saya hanya berkata bullshit..!! hahahahaha

Kami bukanlah para kolektor puncak-puncak gunung, kami bukanlah para penakluk gunung, karena gunung itu bukan musuh. kami hanyalah para penikmat secuil dari ke-Maha Besaran Tuhan yang menciptakan alam raya ini. Kami selalu merasa dekat dengan-Nya ketika berada diatas sana, mata dan hati kami bertasbih memujiNya ketika melihat kebesaranNya. Ketika kami berdiri dipuncak gunung, berdiri diatas ketinggian dan melihat kebawah, bukannya kami menjadi bangga dan merasa lebih hebat, karna selalu saja ada sentilan kecil dari hati kami bahwa kami ini sangat kecil, kami tidak ada apa-apanya. Gunung yang kita lihat besar ketika berada di kakinya, akan lebih terasa berlipat-lipat kali besar ketika kami berada diatasnya, karena gunung itu bersatu dengan kebesaran Tuhan yang lainnya, kita memang sangat kecil, namun manusialah yang paling sombong.

Ini hanyalah sepenggal alasan kami, ada berjuta alasan yang tidak dapat dikatakan melalui lisan dan tulisan lainnya. Kadang saya merinding ketika mendengar lagu dari Dewa19 ini :

Mendaki melintas bukit | Berjalan letih menahan menahan berat beban | Bertahan didalam dingin | Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak | Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir | Mereguk nikmat coklat susu | Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda | Bersama sahabat mencari damai | Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya | Didalam beku `Arcapada` | Mahameru sebuah legenda tersisa | Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa | Anak cucuku mencumbui pasirnya | Disana nyalimu teruji | Oleh ganas cengkraman hutan rimba | Bersama sahabat mencari damai | Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya | Didalam beku `Arcapada` | Mahameru sampaikan sejuk embun hati | Mahameru basahi jiwaku yang kering | Mahameru sadarkan angkuhnya manusia | Puncak abadi para dewa

No comments:

Post a Comment