Ketika menunggu pintu theater satu XXI dibuka, dan sebelum para penonton yang telah memiliki karcis dipersilahkan masuk ke dalam theater satu, saya menyempatkan diri untuk ke toko buku Gramedia di mall yang sama. saya mencari buku bacaan yang dapat mengisi waktu kosong ketika kembali ke kosan. Saat itu saya bimbang antara memilih buku "Eat pray Love" atau buku "Soe Hok Gie sekali Lagi". Saat melihat novel Eat Pray Love saya membayangkan Julia Roberts yang cantik nan sexi yang membintangi film dari novel tersebut, kemudian terlintas bayangan Gie yang kurus, kecil dan muka tampang orng cina pada saat melihat cover buku Soe Hok Gie sekali lagi .Yang jelas Gie kalah dengan pamor dan keindahan jika dibandingkan dengan Julia Roberts. Tapi ketika melihat harga dari bukunya makanya saya memilih buku Soe Hok Gie yang berada pada level 50ribuan, yang lebih rendah 20ribuan point dari buku Eat Pray Love (kayak pasar saham aja).


Buku yang berwarna merah, putih dan kuning itu mengingatkanku pada dua hal. pertama saya mengingat acara Kick Andy yang membagi2kan buku tersebut pada saat acaranya yang bertemakan Soe Hok Gie, dan yang kedua saya mengingat buku yang pernah saya beli saat mahasiswa dulu yg berjudul Catatan Seorang Demonstran yang saat ini terkena imbas dari salah satu sifat jelek manusia yaitu ketika meminjam lupa mengembalikannya. Tapi setidaknya jika buku itu bermanfaat bagi orng lain mungkin itu lebih baik beredar daripada menjadi anggota keluarga di rak buku di rumahku.

Karena memang niatnya hanya untuk mengisi waktu kosong maka saya menamatkan buku setebal 500an halaman tersebut selama satu minggu. Jika buku Catatan Seorang Demonstran berisi mengenai catatan harian, pergolakan pikiran, kecemasan-kecemasan dan kritikan-kritikan Soe Hok Gie, maka buku ini umumnya berisikan pandangan orang-orang terdekat Gie dan orang-orang yang mengaguminya baik itu dia mengenalnya selama hidupnya maupun setelah Gie tiada.

Buku ini terbagi dalam 5 bagian, diawali dengan kisah tragis kematian Gie di gunung Semeru, kemudian kisah Gie dan kecintaannya kepada Alam. Pada bagian ketiga diceritakan mengenai sepak terjang Gie selama menjadi seorang aktivis kampus dan sikap politiknya. Di bagian ke empat berisi tulisan dari orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan Soe Hok Gie, namun mengaguminya melalui catatan-catatan harian dan tulisan-tulisan artikel Hok Gie yang pernah diterbitkan. sedangkan pada bagian ke lima berisi mengenai artikel-artikel pilihan Soe Hok Gie yang pernah diterbitkan.

Membaca buku ini kembali mengingatkan pada waktu mahasiswa dulu yang sangat kental dengan adu argumen dalam diskusi-diskusi (Namun sayang beberapa teman-teman dimasa itu banyak yang memberiikan argumen hasil dari nikah siri retorika dan sedikit omong kosong yang sangat miskin ide, solusi dan data). Membaca kembali tulisan Hok Gie atas pandangannya pada kejadian di kampusnya, di masyarakat, dan di Indonesia saya sangat malu pada diri saya sendiri. Sosok Hok Gie diumur 20an telah memiliki intelektualitas yang kritis, seorang anak muda yang memiliki pandangan yang luas, dalam dan tajam. Seorang anak muda yang memegang teguh prinsip-prinsipnya, pintar, berani dan bersahabat. Hok Gie bukan hanya mampu mengkritik melalui tulisan-tulisannya, namun dia turut mengawal idealismenya dijalanan. walaupun Hok Gie sangat jarang tampil di mimbar orasi, namun dia adalah motor penggerak utama dalam setiap aksi. Hok Gie lah yang bertemu langsung dengan para jenderal-jenderal ABRI untuk mendukung aksi mahasiswa dalam menggulingkan rezim Soekarno hingga terbentuk aliansi antara Mahasiswa dan ABRI pada tahun 1966. Saya bertambah malu dengan mengingat kelakuan-kelakuan mahasiswa sekarang yang doyan tawuran dan membakar kampusnya.

Hoe Gie bukan hanya mengkritik isu-isu nasional, tetapi juga permasalahan yang ada disekitarnya. Tercatat juga bagaimana Hok Gie mengkritik para dosen-dosennya yang tidak becus dalam mengajar, dia mengirimkan surat yang bernada pedas kepada dekan, pembantu dekan dan ketua-ketua jurusan tentang perihal dosen-dosen yang tidak becus dalam mengajar. Jadi teringat kata seorang teman yang mengomentari demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu-isu nasional. Katanya janganlah mengkritik teralu jauh, coba liat sekelilingmu dulu, coba liat WC di kampus yang kotor dan bau, kenapa bukan itu dulu yang dikritik..???

Hok Gie dikenal sebagai mahasiswa yang aktif menulis dan tulisannya diterbitkan dibeberapa media nasional pada saat itu seperti Kompas, harian kami, Sinar harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Inndonesia Raya, dan sekitar 35 artikelnya (sepertiga dari artikelnya yang diterbitkan) selama rentang 3 tahun Orde Baru sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihhan. Seandainya saja saat itu sudah ada Facebook, pasti Hok Gie telah memiliki notes yang banyak yang berisi tulisan2nya yang berbobot. Seandainya saja Gie punya Blog mungkin banyak iklan yang menawarkan dirinya untuk mejeng di blognya Gie.. hehehehe. Kira-kira ada berapa sih mahasiswa zaman sekarang yang sangat rajin menulis dan tulisannya diterbitkan di sebuah media-media nasional? atau setidaknya ada berapa mahasiswa yang memiliki blog yang berisikan ketajaman pemikiran yang dilengkapi dengan analisa dan kritikan yang mantap terhadap suatu permasalahan yang ada? Kembali saya malu... dan saat ini kadar malu saya sudah sampai pada taraf iri pada Hok Gie...

Soe Hok Gie bukan hanya sukses menjadi seorang aktivis kampus yang idealis, namun juga diakui sebagai mahasiswa yang cerdas ditingkat akademiknya oleh teman-teman dan dosen-dosennya saat itu. Saat ini telah terjadi pergeseran nilai. Bahwa seorang aktivis kampus selalu gagal dalam bidang akademiknya dan selalu harus lulus sebagai juru kunci. tetapi ada kesamaan antara Hok Gie dan aktivis kampus saat ini yaitu sebagian besar mereka tidak takut mengkritik dan menghadapi birokrasi, namun mati kutu dihadapan wanita (hehehehe), dalam arti lain selalu gagal dalam urusan cinta (hasilpengamatan terhadap teman-teman dulu.. hehehe). Dulu saya selalu mengatakan bahwa tidak ada pengelompokan antara mahasiswa akademisi yang bureng dan tidak ada kelompok mahasiswa aktivis, yang ada adalah masiswa yang rajin/malas atau mahasiswa yang idealis atau apatis..

No comments:

Post a Comment